Oleh: Syamsul Bahri Majjaga
Kader Partai NasDem
Kita mungkin masih mengingat bagaimana gairah dan keindahan pemilihan Ketua Umum salah satu partai politik di Pekanbaru, Riau. Ibarat karya seni, peristiwa politik yang melibatkan nama Surya Paloh sebagai kandidat ini adalah hasil endapan yang mendalam, cemerlang, dan halus dari sebuah peradaban yang tinggi. Ini adalah awal prestasi dari kultur politik sejak saya memilih untuk belajar banyak hal darinya lewat laku dan geraknya. Pelajaran apakah yang saya petik darinya? lalu se jauh apa negeri kita bisa menariknya sebagai daya manfaat.
Saat ini, saya dan masyarakat warga Indonesia yang pernah mendengar dan menyaksikan tingginya peristiwa sportivitas sang kandidat bersama barisan pendukungnya. Disaat pada papan score tertulis nama lain sebagai pemenang kompetisi nasional salah satu Partai Politik itu. Menurut tutur dari banyak kolega dan senior yang turut serta dan menyaksikan secara langsung peristiwa politik itu. Bapak Surya Paloh menyampaikan selamat dengan cara yang anggun, gagah dan mempesona. Tentu bagi saya yang mendengar dan dan melihat secara visual beberapa adegan dari peristiwa tersebut, sangat tersentuh oleh gelora isu yang yang mereka lontarkan, nampak seakan kandidat petarung itu mengangkat mimpi yang terpendam dalam batin masyarakat Indonesia dan saya akan kejayaan dan martabat negeri kita, yakni pentingnya perubahan dan pembaharuan.
Seolah sedang menonton drama teater diatas pentas, akhir cerita menjadi pembuka sebuah perenungan dalam ragam polemik pertanyaan dalam diri para penonton. Sebuah pertanyaan yang dimulai dari sukma apa yang menyebabkan gestur politiknya begitu anggun? Adakah iSukma politik itu, dan dari mana ia dapatkan? Dapatkah Sukma itu tumbuh dalam tradisi dan sejarah kepartaian kita?
Saya mencoba menyisir pendapat dari pemikir Michael Novak dalam bukunya The spirit Of Demokratic Capitalism. Buku yang setidaknya merujuk pada prinsip dasar yang menjadi Sukma kultur politik Amerika Serikat ini. Setidaknya ada dua alasan untuk memahami Sukma yang mengaliri gestur politik bapak Surya Paloh. Pertama, Sistem sosial interaksi yang dibangun berdasarkan penghormatan pada kebebasan dan hak individu. Dalam kondisi penghormatan semacam ini, semua individu data ber interaksi dalam bentuknya yang beragam, dan melahirkan sinergi dengan letupan energi yang maha besar. Jauh lebih besar ketimbang kebebasan individu ini dibatasi. Kedua, Interaksi sosial yang dibangun atas dasar prinsip kontrol dan keseimbangan, check and balance. Filsafat moral yang melandasinya, dalam arti tidak ada manusia yang berprilakun baik, jika tidak dikontrol oleh manusia lainnya.
Setidaknya kita melihat, dalam ruang kontestasi politik atau sosial interaksi kewargaan. Jika kekerasan politik menjadi soal, demokrasi bukanlah penyebabnya. Dalam dialegtika politik yang tidak demokratis, akibat sikap Refresif atas nama kelompok dan individu yang juga nampak tidak mau kalah garangnya. Yang tersaji adalah huru-hara dan praktik argumentasi negasi yang saling membunuh karakter individu. Dalam cara inilah, saya kemudian mengerti kenapa Bapak Surya Paloh sangat dialegtis dalam konteks kompetisi politik, namun menawan dalam gestur dalam laku gerak politik yang di lakoninya. Pandangan ini lahir, dengan menduga bahwa Bapak Surya Paloh menyakini satu hal. Bahwa institusi dan mekanisme demokrasi yang bergerak tanpa Sukma demokrasi ibarat kantong tanpa isi. Tanpa sukma, demokrasi justru dapat menjadi slogan untuk menyelubungi praktik politik yang sesungguhnya tidak berjiwa demokratis. Jika dugaan ini betul, maka hal yang mendesak yang ingin kusampaikan dalam tulisan ini adalah:
“Anda adalah Indonesia dalam wajah sejatinya nusantara, Anda adalah Nusantara dalam aura keberagaman – Anda adalah Wajah sejati Nasional Demokrat Indonesia, Nasdem adalah Wajah Anda dalam Sukma demokrasi“
Setelah mendengar dan melihat sesuatu yang lain dan lebih dari sekedar prestasi ekonomi, institusi atau dalam mekanisme demokrasi didalam kedirian. Inilah yang saya sebut dengan Sukma. Sikap hidup yang dihayati dan dipraktikkan oleh bapak Surya Paloh, baik sebagai individu, interaksi kelompok atau kehidupan politiknya. Hal – hal kecil yang hidup dalam diri Bapak Surya Paloh, menjadi sikap yang riel, yang menurut saya menjadi sangat dibutuhkan dalam kehidupan berdemokrasi kita. Menghidupkan kembali sukma demokrasi. Pada poin inilah pandangan mendesak yang kusampaikan diatas.
Sebagai contoh, Fukuyama mengatakan, Demokrasi tidak akan pernah ada, tanpa para demokrat yang melengkapi institusi dan ruang – ruang demokrasi. Kehadiran individu yang banyak adalah sangat penting. Artinya Kegairahan kita pada demokrasi sangatlah ditentukan oleh kesediaan kita menghidupkan kembali jiwa dan Sukma dalam kehadiran kita sebagai individu yang secara nyata bersikap demokratis. Disinilah perjalanan dan perjuangan demokrasi negeri kita menjadi lebih sederhana, meski tidak mudah. Karena langkah pertama justru harus dimulai didalam diri sang pejuang itu sendiri. Bapak Surya Paloh telah memulai citarasa demokratis dalam kegairahan Sukma demokrasi lewat Partai Nasdem dengan Visi Restorasi Indonesia.
Ahkirnya, Dari ujung selatan Sulawesi Selatan, Kabupaten yang dalam tradisi nilai budaya meletakkan prinsip toleransi dan kesederhanaan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia. Kami senantiasa menanti wajah bapak untuk tegak berdiri diatas tanah kami. Nilai dan prinsip yang bapak praktikkan membawa Anda dan Kami dalam ikatan nilai yang sangat kuat dengan tradisi keberagaman dan jiwa berkeyakinan.

Comment