Bulukumba Menggugat

Oleh: Syamsul Bahri Majjaga

Jejak imajinasi yang menjejak dalam rentetan narasi dan lintasan peristiwa yang pernah tersaji diatas bentangan karpet merah sejarah peradaban mansusia di kabupaten Bulukumba.

“Tutur Pasang ri Kajang, Manakip Dato ri tiro, Samindara. Baso kunjung barani, Phinisi, Cerita rakyat pau’ janggo, Jejak pembebasan Irian barat di pantai mandala ria, Legenda tonrang Gowa, dan Heroisme pemuda dalam kepahlawanan Andi sultan Daeng Radja, Pesan dari Rumah Belanda di Tanete,” adalah rangkaian jejak kisah atas supremasi tingkat peradaban yang tinggi di masa lalu.

Kabupaten Bulukumba, yang dalam penegasan dirinya disebut sebagai negeri para panrita adalah sebuah bentuk dari kemahapesoanan, negeri yang terpilih untuk mengejawantahkan sebuah warisan kebudayaan yang utuh yang saling berkait dan sangat sulit untuk di pisahkan. Hal yang terdeskripsikan secara alamiah dari sisi historis dan budaya yang dikisahkan dalam tradisi tutur masyarakat, yang dalam penjelasan kesejatiannya, rentetan peristiwa itu haruslah menjadi sebuah momentum pertemuan atas semua jejak budaya – adat istiadat dan tradisi yang berbeda zaman. Sehingga di dalam interaksi sosial dari yang berbeda – beda ini akan semakin erat dengan prinsip mutualisme antara yang satu dan yang lain.

Maka sudah sepatutnya, Kabupaten Bulukumba mendudukkan wacana, bukan saja soal membaca kembali, Tetapi menelisik jauh masuk kedalam sebuah ihktiar gerak etis dalam rupa, nilai eksistensi manusianya. Artinya secara etis paradigma ke-Bulukumba-an, terjembatani dalam makna budaya, arti bahasa dan lakon adat kebiasaan adalah cara pandang, nilai- nilai, metode-metode prinsip dasar, atau cara memecahkan masalah yang dianut oleh setiap masyarakat secara dogmatis sebagai sandaran karakter yang sama. Menata bersama cara pandang dan pola tindak ke-Bulukumba-an kita, yang sudah begitu lama larut hanyut terbawa arus globalisasi, sangat memungkingkan menjadi media diplomasi kebulukumbaan kita yang ber keadaban. Mungkinkah, mengekspresikan cita rasa kebanggaan, sebagai manusia Bulukumba. Terjembatani dalam satu media interaksi? Bagaimana merumuskannya. Dan apa tujuannya! Dalam bahasa inilah, Bulukumba menggugat.

Saya, Anda dan Kita semua. Yang berbahasa dan berbudaya Konjo, Juga yang berbudaya dan berbahasa Bugis, dan juga yang bertradisi dan berbahasa Makassar. Adalah yang tergugat. Kenapa, Merunut perjalanan sejarah yang panjang dan mengesankan, Bulukumba tercipta sebagai Kesatuan yang khas dari ragam Budaya, Suku, adat tradisi, sebagai pedoman dan pandangan hidup bersama yang bernama “Bulukumba“. Dalam pengertian inilah, Bulukumba menggugat, dan mendesak sebuah rumusan dalam bentuk kesadaran bersama, sesuatu yang dimaksudkan sebagai media konsolidasi emosional keluhuran Bulukumba, juga menjadi media gerak strategis dalam membumikan kembali Bulukumba yang Adiluhung.

Hari jadi Kabupaten Bulukumba yang ke-58 tahun ini adalah mata rantai yang tidak terpisahkan dengan kami, yang secara genetis merupakan anak kandung kebudayaaan Bulukumba.

Oleh karena itu, secara khusus, mengekspresikan gerakan diplomasi kebudayaan. Bahwa kemuliaan sikap dan prilaku yang diwariskan oleh para pencetus Bulukumba, sebagai perwajaaah atas dorongan merangkai keagungan budaya yang utuh. Adalah jawaban dari anak kandung kebudayaaan dalam manifesto, Bulukumba Satu, Bulukumba Beda, Bulukumba Kita.

Tinggalkan Komentar