Mengarung Sepanjang Usia Republik

Sebuah Ajakan Berhimpun!

Kawanku sehimpun dan secita,

1947 hingga 2018 bukanlah semasa yang singkat. Pada kurun yang merentang panjang itu, kita telah menjadi penyaksi atas apa yang telah diarungi republik. Kita adalah satu dari sedikit penumpang pertama yang duduk dalam kapal bernama Indonesia itu.

Di atas kapal itu kita percaya, Pulau Harapan yang menjanjikan terwujudnya masyarakat adil makmur dapat dituju. Tetapi kita bukan hanya sebatas penumpang yang pasif. Kita juga adalah awak kapal yang bekerja keras, kita juga adalah mualim yang bertugas dengan gesit.

Tidak hanya itu, Kita pun telah ditempa untuk sewaktu-waktu menjadi Nahkodanya, yang piwai menerjang ombak, menghadang badai dan taufan. Juga yang terpenting, di tangan kita terletak kompas yang menentukan arah tujuan tetap pada kordinat yang sejatinya.

Kawanku sehimpun dan secita,

Tetapi selayaknya kapal yang mengarung di samudera itu, sudah pasti ada masanya kita terombang ambing karena dahsyatnya badai dan ganasnya gelombang. Adakalanya kita merasa mual dan ingin muntah. Adakalanya kita merasa gentar karena menemukan besarnya tantangan.

Tetapi adakah kita kemudian mundur? Adakah kita patah arang dan memilih untuk kembali pulang? Tidak! Kita tetap tegar dan teguh pada pilihan logis sebagai bagian dari Republik. Sebagai garda terdepan dari perjuangan dan cita-cita besar bersama itu.

Kawanku sehimpun dan secita,

Tugas kita sebagai kader ummat dan kader bangsa adalah memastikan relasi harmonis antara keislaman dan keindonesiaan. Kita adalah kelas penjaga yang mengawal dengan setia, Keutamaan-keutamaan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dapat bersenyawa dan hidup berdampingan dengan entitas Keindonesiaan yang majemuk.

Kita adalah kaum muda Islam Politik yang berdiri di tengah dan secara aktif melakukan kerja-kerja sistematis menjembatani setiap faksi-faksi kebangsaan yang tak terakurkan. Di atas tugas berat itu, dengan tegas kita tabalkan posisi berdiri.

Kawanku sehimpun secita,

Jikalau kemudian di tengah perjalanan mengarung itu kita kedinginan dan kuyup karena hujan dan air laut, jangan takut apalagi surut. Ada api yang akan terus menghangatkan segala kebekuan-kebekuan di dalam tubuh Himpunan. Api itu wajib dijaga dan jangan dibiarkan padam. Api itu adalah api gagasan.

Sebab keyakinan bahwa Himpunam Kita adalah Harapan Masyarakat Indonesia hanya dapat terwujud jika Api gagasan itu tidak dipadamkan dan dibiarkan terus menyala. Biarkan geloranya terus menyala-nyala dalam pikiran kita, tak boleh dipadamkan. Hanya dengan cara itu kita dapat mengarung sepanjang usia Republik. Kita bukan dan tidak akan pernah menjadi penumpang gelap dalam lintasan sejarah.

Kawanku sehimpun secita, Ayo jalan bersama. Genggam tanganku, ku pegang erat tanganmu.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah. Hanya pada gagasan, harapan Jalan Kejuangan ini diletakkan.

Jabat erat!

Penulis: Ilham Akbar Mustafa
Calon Ketua Umum PB HMI

Comment