Mendulang Makna Cinta di Kampung Katimbang

Penulis: Samsul Bahri Majjaga, SH, MH Direktur Batara Mungku InstituteMelalui sebuah postingan disalah satu akun sosial media milik Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria. Pada akun facebook miliknya, beliau menuliskan:

“Adik Diana. Seperti yang saya janjikan, sejak kemarin saya mengunjungi kampung Na’na sampai ke Katimbang Borong Rappoa. Melihat dari dekat keadaan kampung ini, saya harus angkat topi atas perjuanganmu memenangkan cinta. Betul apa yang menjadi komentar para sahabat, kita perlu melakukan sesuatu agar kampung Na’na bisa lebih mudah diakses dengan perbaikan jalan. Ini juga disampaikan oleh masyarakat yang saya temui disini. Saya sebenarnya menyempatkan diri singgah di rumah suamimu. Sayangnya menurut kakek mertumu, kalian sementara tidak berada ditempat. Sepertinya kalian masih berbulan madu. Saya doakanki, SAMAWA!!!
Membaca komposisi, argumentasi dan narasi atau gaya bahasa yang terdapat dalam postingan in, telah menggiringku untuk menelusuri jejak – jejak makna untuk  menapaki relung – relung pemikirannya. Diana, Siapa sesungguhnya dirimu?Menjejak makna yang ada diujung jalan menuju kampung Na’ na, dan mendulang pesan dibalik foto – foto yang kini banyak kutemui di banyak beranda akun media sosial. Kata – kata ini menemuiku bersama banyak kosakata dan membawaku terbang ke titik pandang yang tinggi untuk menyaksikan hamparan wilayah yang sedang tertutup kabut eksotis, sungguh – sungguh sangat indah.[caption id="attachment_1771" align="aligncenter" width="225"] Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto saat menikmati keindahan Kampung Katimbang[/caption]Diana, Engkau adalah pena yang menuliskan  cerita  tentang aksara alam di kampung Katimbang. Karena Namamu, Na’ na ataukah Katimbang menjelma menjadi sayap -saya baru, membawa seorang tomy Satria terbang ke taman – taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, waktu dan peristiwa, menyapa semua masyarakat yang dijumpainya, sambil bermain bermain di lengkung pelangi.  Tentang apa yang kutuliskan ini. Setidaknya, bagiku bermakna kreasi dan rekreasi.

Diana, you are what you think!

Engkau adalah apa yang engkau fikirkan.

 Saya mencoba menegaskan ungkapan ini setelah melampaui gambar kasat mata lewat media visual dan menapaki setiap kata dan makna yang terukir dari tulisan kakanda Tomy Satria.  Menimbang peran ketiganya,
“Kakimu yang mengayung dalam busana pengantin, ekspresi bahagia yang dituangkan wakil bupati Bulukumba didalam postingan tulisannya, Lengkung pelangi di balik kabut Na’ na dan Katimbang yang terkuak“
Adalah hal yang berjalan saling menguatkan untuk menunjukkan sesuatu yang tak tampak dalam dirimu. Niatmu mengundang Tomy Satria dihari bahagiamu, Tertangkap olahku melalui kalimat “seperti yang saya janjikan“. Adalah makna  kulminasi ( sinar matahari akan mencapai titik tertinggi, pada titik ini bayangan benda akan hilang tertutup benda itu sendiri). Niat ikhlas mengundang Tomy Satria, telah engkau lakukan dengan usaha maksimal ( Baca: Undangan sebagai usaha tertinggi ) maka bayang bayang akan ketidakhadiran, tertutup keyakinan dan semangat seiring usaha yang telah kau lakukan ( Baca: yang ku janjikan) saat ini telah berganti cahaya  yang  terus menerus menampakkan wajah surgawi di kampung Na’ na dan Katimbang . Niat dan Usahamu, meninggalkan cahaya lengkung pelangi sebagai sebuah jawaban.Diana! Kini, engkau telah membina keluarga baru.  Tapi, perilaku yang telah kau perlihatkan, kepadaku dan dunia telah menjadi sebuah cerminan dan contoh nyata, bagaimana niat ikhlas dan usaha yang maksimal di definisikan. Terima kasih telah menginspirasi dalam tulisan ini. Saya doakanki, SAMAWA!!! Semoga kelak, saya bisa berkunjung di kempung lengkung pelangimu.Ini Serius!!!https://youtu.be/9TWzoLAFym8

Penulis: Samsul Bahri Majjaga, SH, MH
Direktur Batara Mungku Institute

Melalui sebuah postingan disalah satu akun sosial media milik Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria. Pada akun facebook miliknya, beliau menuliskan:

“Adik Diana. Seperti yang saya janjikan, sejak kemarin saya mengunjungi kampung Na’na sampai ke Katimbang Borong Rappoa. Melihat dari dekat keadaan kampung ini, saya harus angkat topi atas perjuanganmu memenangkan cinta. Betul apa yang menjadi komentar para sahabat, kita perlu melakukan sesuatu agar kampung Na’na bisa lebih mudah diakses dengan perbaikan jalan. Ini juga disampaikan oleh masyarakat yang saya temui disini. Saya sebenarnya menyempatkan diri singgah di rumah suamimu. Sayangnya menurut kakek mertumu, kalian sementara tidak berada ditempat. Sepertinya kalian masih berbulan madu. Saya doakanki, SAMAWA!!!

Membaca komposisi, argumentasi dan narasi atau gaya bahasa yang terdapat dalam postingan in, telah menggiringku untuk menelusuri jejak – jejak makna untuk  menapaki relung – relung pemikirannya. Diana, Siapa sesungguhnya dirimu?

Menjejak makna yang ada diujung jalan menuju kampung Na’ na, dan mendulang pesan dibalik foto – foto yang kini banyak kutemui di banyak beranda akun media sosial. Kata – kata ini menemuiku bersama banyak kosakata dan membawaku terbang ke titik pandang yang tinggi untuk menyaksikan hamparan wilayah yang sedang tertutup kabut eksotis, sungguh – sungguh sangat indah.

Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto saat menikmati keindahan Kampung Katimbang

Diana, Engkau adalah pena yang menuliskan  cerita  tentang aksara alam di kampung Katimbang. Karena Namamu, Na’ na ataukah Katimbang menjelma menjadi sayap -saya baru, membawa seorang tomy Satria terbang ke taman – taman pengetahuan paling menawan, melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta, waktu dan peristiwa, menyapa semua masyarakat yang dijumpainya, sambil bermain bermain di lengkung pelangi.  Tentang apa yang kutuliskan ini. Setidaknya, bagiku bermakna kreasi dan rekreasi.

Diana, you are what you think!

Engkau adalah apa yang engkau fikirkan.

 

Saya mencoba menegaskan ungkapan ini setelah melampaui gambar kasat mata lewat media visual dan menapaki setiap kata dan makna yang terukir dari tulisan kakanda Tomy Satria.  Menimbang peran ketiganya,

“Kakimu yang mengayung dalam busana pengantin, ekspresi bahagia yang dituangkan wakil bupati Bulukumba didalam postingan tulisannya, Lengkung pelangi di balik kabut Na’ na dan Katimbang yang terkuak“

Adalah hal yang berjalan saling menguatkan untuk menunjukkan sesuatu yang tak tampak dalam dirimu. Niatmu mengundang Tomy Satria dihari bahagiamu, Tertangkap olahku melalui kalimat “seperti yang saya janjikan“. Adalah makna  kulminasi ( sinar matahari akan mencapai titik tertinggi, pada titik ini bayangan benda akan hilang tertutup benda itu sendiri). Niat ikhlas mengundang Tomy Satria, telah engkau lakukan dengan usaha maksimal ( Baca: Undangan sebagai usaha tertinggi ) maka bayang bayang akan ketidakhadiran, tertutup keyakinan dan semangat seiring usaha yang telah kau lakukan ( Baca: yang ku janjikan) saat ini telah berganti cahaya  yang  terus menerus menampakkan wajah surgawi di kampung Na’ na dan Katimbang . Niat dan Usahamu, meninggalkan cahaya lengkung pelangi sebagai sebuah jawaban.

Diana! Kini, engkau telah membina keluarga baru.  Tapi, perilaku yang telah kau perlihatkan, kepadaku dan dunia telah menjadi sebuah cerminan dan contoh nyata, bagaimana niat ikhlas dan usaha yang maksimal di definisikan. Terima kasih telah menginspirasi dalam tulisan ini. Saya doakanki, SAMAWA!!! Semoga kelak, saya bisa berkunjung di kempung lengkung pelangimu.

Ini Serius!!!

Tinggalkan Komentar