Zakat, Infaq, Sadaqah, dan Wakaf: Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan

Makassar, PANRITA.News – Sekalipun bukan hanya di Ramadan, selain zakat fitrah, semuanya tetap dapat ditunaikan sepanjang masa. Saat nishab harta benda seorang muslim terpenuhi, maka saat itu pulalah kewajiban membayar zakat mesti ditunaikan.

Hanya saja, dalam Ramadan, tetap menjadi kesempatan terbaik untuk membayar zakat. Termasuk infaq, sadaqah, dan wakaf. Ini dilakukan dengan pelbagai cara. Termasuk dalam cara yang sangat sederhana. Kita sudah akrab dengan celengan masjid. Turut menyiapkan dana dalam biaya kebersihan toilet umum.

Sesuai dengan kondisi sekarang, kita dapat melihat bentuk lainnya. Seorang content creator memberikan kesempatan kepada warganet untuk menyumbang dengan informasi melalui media Facebook. Tetapi bukan dalam bentuk uang tunai. Sebaliknya, saudara Arham menyampaikan kondisi iktikaf jamaah dalam masjid yang berlokasi di kota Kendari.

Arham kemudian juga memaklumkan nomor token untuk pembelian daya listrik bagi masjid Al Furqon. Dimana masjid ini, tidak hanya menggunakan listrik bagi penerangan. Tetapi juga untuk keperluan pendingin ruangan. Sehingga donasi langsung dalam bentuk token listrik.

Masih dari Arham, dimana seorang dermawan menyediakan sumbangan untuk fasilitas umum, seperti jembatan, lampu penerangan, drainase, WC umum, dan semisalnya. Setiap satu lokasi, disediakan sampai jutaan rupiah. Menyumbang dapat diawali dari media sosial. Bukan lagi hanya sekadar maklumat dari corong masjid.

Maka, menyumbang tidak lagi setakat dengan memasukkan uang ke celengan masjid. Dimana kadang-kadang lubang untuk memasukkan uang senilai ratusan ribu mengalami kendala. Lubang yang tersedia sangat kecil, sehingga hanya uang receh yang bisa masuk. Ini dipicu dari kebiasaan, ketika menyumbang justru dalam angka terkecil yang ada di dompet.

Jelang akhir Ramadan, kita juga saksikan betapa peruntukan untuk santunan mulai terfokus. Sebagaimana Baznas Kabupaten Enrekang memberikan santunan bagi guru mengaji, pekerja di sektor kebersihan, dan juga pekerja tidak tetap lainnya.

Sekalipun dalam keterbatasan, mereka tetap bersuka ria dan bersuka cita dalam menyambut datangnya idulfitri.

Begitu pula dengan elemen masyarakat bekerja bersama lintas sektoral. Sebagaimana pelaku usaha wisata di Kabupaten Maros dengan kolaborasi Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, dan Asosiasi Guru, memberikan santunan dalam bentuk bingkisan yang diserahkan oleh Bupati dan Wakil Bupati Maros kepada guru-guru honorer.

Pada saat yang sama, ada pembayaran melalui Qris. Di masjid Istiqlal, sebagai lambang kemerdekaan kita dari penjajahan manusia, justru yang terjadi adalah kejahatan. Ada saja manusia yang jahat mengganti barcode itu dengan nomor rekening yang lain. Dimana itu tidak lagi masuk ke kas masjid. Tetapi juga beralih ke rekening penjahat.

Sehingga kepercayaan untuk menyumbang melalui mekanisme rekening menjadi masalah tersendiri. Ada kekhawatiran tersendiri yang kemudian dibangun berawal dari kecelakaan akibat oknum tertentu.

Menyumbang kini, baik dalam instrument zakat, infaq, sadaqah, dan wakaf (ziswaf) dapat dilaksanakan dengan pelbagai bentuk.

Urunan membangun masjid, pengelolaan pesantren, biaya untuk penggalian sumur, bedah rumah, membersihkan karpet masjid, dan bahkan sampai pada pengobatan jamaah. Kesemuanya tidak secara khusus dicontohkan oleh Rasulullah.

Hanya saja dalam urusan ziswaf ini, kita yang lebih faham situasi kontemporer. Sehingga soal rekening, ataupun instrumen lainnya merupakan bagian dari cara saja. Tetapi esensinya kembali kepada kemauan untuk berbagi dengan sesama.

Lalu, apa yang menjadi sasaran pelaksanaan ziswaf?. Paling tidak dalam dua hal, yaitu bagaimana mustahiq dientaskan, dan diteruskan dengan memberdayakan mereka. Dalam tahapan berikutnya, mereka tidak lagi berada dalam kelompok mustahiq tetapi sudah sampai pada golongan muzakki.

Ziswaf bukanlah alat untuk memaklumi “kemalasan” para mustahiq. Tetapi justru inilah instrumen yang didasarkan pada perintah agama untuk saling membantu. Ada sarana untuk saling bekerja dalam kebaikan. Saling mengajak dengan wujudnya amil. Sehingga ini lebih terprogram, berkelanjutan, dan berdampak.

Pemanfaatan pelbagai instrumen ziswaf menjadi tantangan tersendiri (Prakoso, Saputra, & Fahriyadi, 2023). Ada ruang-ruang kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk optimalisasi baik pengumpulan maupun pendistribusian. Seperti instagram, juga menjadi media komunikasi antara amil dan masyarakat luas (Othman, Wahid, & Ismail, 2021).

Kesemuanya berujung pada keinginan untuk menjadikan instrumen ziswaf sebagai bagian dalam kesejahteraan sosial (Afni, 2020). Jikalau ini terujud, maka di situlah posisi agama yang tidak hanya pada soal diri sendiri tetapi juga soal kebersamaan (jamaah).

*Ismail Suardi Wekke, Wakil Ketua Umum MPP Pemuda ICMI.

Tinggalkan Komentar