Kwitansi RS Bhayangkara Dipalsukan, Siapa Bertanggung Jawab?

Ilustrasi Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.

Makassar, PANRITA.News – Bagian Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Sulawesi Selatan sedikit kaget. Pasalnya, Rabu jelang sore (22/01/2020) kemarin, mereka kedatangan pelapor yang melaporkan terjadinya pemalsuan kwitansi rumah sakit Bhayangkara Polda Sulsel.

Adalah Soefian Abdullah, sang pelapor tersebut. Dihadapan aparat, Dia menyatakan bahwa kwitansi tersebut digunakan sebagai salah satu bukti untuk mempidanakannya. “Ini kriminalisasi dan mungkin adalah rekayasa kasus Pak,” jelas Soefian.

Tahun 2017 lalu, Soefian memang dilaporkan melakukan penganiayaan di polsekta Mariso Makassar. Oleh penyidik, dia disangkakan melanggar pasal 351 (1).

“Saat itu, saya dituduh melanggar pasal 351, padahal saya tak melakukan tindakan penganiayaan apa-apa, saya hanya menunjuk-nunjuk saja,” ungkap Soefian.

Namun, masih menurut Soefian, berkas kasus itu dikembalikan jaksa, karena kurangnya alat bukti.

“Tapi tiba-tiba dua tahun setelahnya, di sekitar September 2019, saya dipanggil lagi oleh aparat Polsek terkait kasus 2017 tersebut dan katanya ada bukti baru, dan setelah saya selidiki, ternyata bukti baru yang muncul tersebut, salah satunya adalah kwitansi yang sudah dirubah isinya,” jelasnya.

“Saya laporkan ini di Polda, agar sekalian juga bisa membantu aparat kepolisian terutama pihak RS. Bhayangkara bahwa mereka bekerja secara benar, jadi jika terjadi hal-hal yang seperti ini, maka itu bisa dikatakan mencederai nama baik institusi Polri,” sambung Soefian.

Saat Sofian memperlihatkan buktinya, sangat jelas kelihatan 2 kwitansi yang No. Registernya sama, namun isinya berbeda. Kwitansi benar (berdasarkan klarifikasi pihak RS. Bhayangkara) adalah tertera Rp. 15.000,- untuk pembuatan kartu pasien. Sementara kwitansi lainnya (dengan register sama yang menurut pihak RS. Bhayangkara mappaoddang tidak benar) tertera nominal Rp. 215.000,-. Tanggalnya pun kelihatan sudah dirubah.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Ibrahim Tompo mengatakan bahwa kwitansi tersebut terdapat perubahan angka.

“Bukan pemalsuan kwitansi namun data angka dan tanggal pemeriksaannya di rubah,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Kwitansi yang benar. (Ist)
Kwitansi yang dipalsukan. (Ist)

Tinggalkan Komentar