Sastra untuk Kemanusiaan

Penulis: Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dan pernah menjadi Presiden Mahasiswa UIN Periode 2018.

“Pemahaman tentang kemanusiaan berangkat dari telaah karya sastra”, sepintas sebuah petikan yang bersarang di benakku kala memasuki sebuah forum seminar di sepertiga sore. Kutipan perkataan itu dilontarkan oleh salah seorang dari dua narasumber yang tengah menghidangkan pokok bahasannya masing-masing sementara saya tetap berjalan menyusuri kursi demi kursi menuju barisan paling belakang (sebuah bentuk kebiasaan kala terlambat datang dalam sebuah kegiatan, memilih duduk paling belakang agar tidak larut dalam tatapan penuh makna baik dari peserta forum maupun dari narasumber). Sebelum lanjut, rasa terima kasih saya hanturkan kepada Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis, Unhas atas forum atau seminar yang terbilang jarang hadir di tengah-tengah pergumulan mahasiswa dewasa ini yakni seminar dengan mendudukkan identitas fakultas sebagai core point pembahasan, Fakultas Ilmu Budaya (yang sebelumnya Fakultas Sastra) Unhas. Tulisan ini merupakan hasil penelaahan dari forum seminar sekaligus sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan yang begitu menawan bagi pribadi.

Berbekal beberapa lembar kertas yang berjudul Fakultas Ilmu Budaya sebagai Fakultas Ilmu Manusiawi (Humaniora) yang dibagikan oleh salah satu narasumber, sebut saja Aslan Abidin, beliau adalah akademisi dan sastrawan. Di dalam tulisan itu banyak menyoal persoalan sastra dan kehidupan masyarakat serta pentingnya membaca karya sastra yang juga diperkuat oleh pidato Soemarwati Kramadibrata Poli dalam acara pengukuhan guru besar beliau yang berjudul ‘Kesusastraan dan Peradaban’ bertitimangsa Makassar, 15 Desember 2005. Masalah pentingnya membaca sastra dapat dilihat di halaman 17 pidato beliau di bawah:

… “mengapa kita harus membaca karya-karya sastra?” Jawabannya terletak pada kecendrungan manusia untuk mencari prinsip-prinsip dasar kemanusiaan, karena jika tidak memiliki rasa kemanusiaan, maka tidak ada lagi yang mewakili sesamanya yang memiliki harapan untuk bersikap rasional dalam hidupnya. Pengahayatan kritis atas karya sastra memberi alternatif kemungkinan untuk bertahan terhadap tekanan ideologis yang tidak menguntungkan semua pihak. Pengungkapan isu-isu tertentu lewat pelbagai kemasan dan pandangan memberi kita kesempatan untuk belajar menilai dengan perspektif berbeda, melakukan “dialogisme” –istilah Bakhtine dan Kristeva— melampaui batas-batas konvensi dan dogmatisme yang mengekang atau membatasi kebebasan kita berpikir secara kritis, etis dan beradab.

Sastra dan kehidupan masyarakat, hal demikian seharusnya menjadi kajian bersama meskipun banyak yang berargumen bahwa pada dasarnya sastra tidak memiliki keterkaitan dengan kondisi masyarakat apatah lagi perjuangan membebaskan masyarakat dari belenggu penindasan, sastra tidak di sana. Nah, argumen seperti inilah yang seharusnya diluruskan secara bersama. Pertanyaan mendasar yang mungkin bisa dijadikan antitesis yakni apa itu sastra? Jika pertanyaan tersebut dijawab dengan statemen bahwa sastra adalah sebuah studi tentang menulis buku, puisi serta memberikan kritikan-kritikan pada novel ataupun karya-karya lainnya maka kita juga bisa berargumen bahwa rasanya kurang elegan jikalau mengatakan bahwa sastra tidak memiliki keterkaitan dengan kondisi masyarakat sementara kita sendiri belum terlalu memahami tentang sastra itu sendiri. Baiklah, saya di sini mencoba memberikan sebuah gambaran mengenai sastra itu sendiri (sesuai pengetahuan saya selama ini). Sastra adalah kesusastraan, kesusastraan adalah ilmu atau pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra sedang susastra adalah karya sastra yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan pengalaman jiwa manusia yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan disusun dengan bahasa yang indah sebagai sarananya sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi. Di sinilah bisa kita simak secara bersama bahwa sastra bekerja dengan memunculkan kondisi kehidupan nyata dalam bentuk karya sastra dengan metode mengekspresikan dan membayangkan penderitaan rakyat dalam melawan penindasan. Seorang sastrawan ternama, Pramoedya Ananta Toer, menjadikan medium sastra sebagai metode atau corong dalam hal ini novel sebagai bentuk propaganda untuk memunculkan sejarah nyata tentang Indonesia. Sastra memberikan cukup bekal pengetahuan yang manusiawi. Pemahaman kemanusiaan berangkat dari pemahaman karya sastra merupakan pandangan yang benar karena seperti yang kita tahu bahwa humaniora (dalam KBBI) adalah ilmu pengetahuan yang meliputi filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, seni dan sebagainya. Unsur intrinsik tentang humanisme (kemanusiaan) salah satunya adalah sastra dan filsafat yang kemudian akan melahirkan semangat humanisasi. Sastra sebagai wadah ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kemampuan melek aksara (literasi) sementara filsafat sebagai tradisi berpikir kritis dengan tetap mengedepankan kebijaksanaan sehingga akan menghasilkan manusia-manusia yang rendah hati, berjiwa besar, pemaaf dan tidak berkepala batu.

Pembelajaran sastra di ruang perkuliahan misalnya, harus dimodifikasi dengan bijak agar sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat. Tubuh sastra harus dilepaskan sedikit demi sedikit dari teori-teori sastra yang terbilang ketinggalan seperti teori strukturalisme. Pierre Bourdieu dalam esai yang ditulis Aslan Abidin, kurang lebih mengatakan bahwa “teori strukturalisme adalah ilmu yang kurang manusiawi, kecenderungan strukturalisme mengkaji sastra atau bahasa secara terpisah dari realitas manusianya. Sehingga, apabila sebuah fakultas ilmu-ilmu humaniora juga melakukannya, maka fakultas tersebut menyalahi ‘kodrat’-nya sendiri sebagai fakultas ilmu-ilmu humaniora yang manusiawi”. Strukturalisme lebih kepada mengidentifikasi tokoh, tema, alur, penokohan dan lain-lain pada sebuah karya sastra dan tidak lebih dari sebatas identifikasi sementara yang seharusnya hadir hari ini adalah bagaimana dalam sebuah karya sastra dikaji dari segi perlakuan tidak adil, penindasan dan lain sebagainya yang mungkin sengaja atau tidak sengaja dituliskan oleh si penulis.

Tarikan benang merah dari seminar Fakultas Ilmu Budaya sebagai Fakultas Ilmu Manusiawi yang dilontarkan dari kedua narasumber, Dr. Fathu Rahman (WD I FIB) dan Aslan Abidin, kepada fakultas yang memiliki background ilmu budaya, ilmu sosial, humaniora dan sastra yakni menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membaca karya sastra dan mendorong peningkatan pembelajaran teori sastra pasca-struktural dalam hal ini Cultural Studies (ilmu budaya) dan teori-teori kritis yang lebih produktif dan progres dalam membela kemanusiaan, menyadarkan masyarakat tentang ideologi, relasi kuasa dan penindasan sehingga para peserta didik (mahasiswa) mampu menjalankan perannya sebagai pengontrol laju kehidupan masyarakat.

Tinggalkan Komentar